www.PortalBugis.Com

"Catatan Bugis Di Rantau & Budayanya"

Archive for the ‘BUDAYA BUGIS’ Category

Massaung Manu,Tradisi Sabung Ayam Masyarakat Bugis

Posted by Rustan pada Februari 9, 2012

Massaung manuk adalah penamaan orang Bugis untuk sebuah permainan yang  dalam bahasa Indonesia berarti sabung ayam. Massaung manuk dahulu hanya dilakukan para raja dan bangsawan Bugis pada pagi atau sore hari untuk memeriahkan pesta-pesta adat seperti: pelantikan raja, perkawinan, dan panen raya. Konon, permainan ini bermula dari kegemaran para raja yang sering mempertarungkan pemuda-pemuda di seluruh wilayah kerajaannya untuk mencari tubarani-tubarani (pahlawan) kerajaan yang akan dibawa ke medan pertempuran. Jadi, pada waktu itu yang disabung bukanlah ayam melainkan manusia. Namun, lama-kelamaan, mungkin karena semakin jarangnya terjadi peperangan antarkerajaan, pertarungan antarmanusia itu berubah menjadi pertarungan antarayam yang dinamakan massaung manuk.

Selengkapnya…

Iklan

Posted in BUDAYA BUGIS | 3 Comments »

Manusia Bugis, Rantau & Budayanya

Posted by Rustan pada Juli 2, 2009

Manusia Bugis, Rantau & Budayanya

RESENSI
Judul : Manusia Bugis
Penulis : Christian Pelras
Penerbit : Nalar, Jakarta
Tahun : Februari 2006
Hal. : xxxxiv + 450 hlm.

Oleh : Muhammad Ridwan Alimuddin

“Dari mana nenek-moyang orang Sulawesi Selatan berasal? … jika anggapan Mills benar bahwa lokasi pertama yang ditempati para pendatang adalah sekitar muara Sungai Saddang, maka kemungkinan besar asalnya dari Kalimantan Timur, yakni sekitar Kutei-Samarinda, atau dari bagian tenggara Kalimantan, yakni sekitar Pegatan-Pulau Laut (belakangan, pada kedua wilayah itu terdapat perkampungan bugis. Mungkin tanpa disadari, mereka sebenarnya telah kembali ke tempat asal nenek-moyang mereka) …”


Posted in BUDAYA BUGIS | Leave a Comment »

BISSU ; Celah di Budaya Bugis

Posted by Rustan pada Juli 2, 2009

bissu

Sepertinya hanya di budaya Bugis, dikenal lima (5) jenis gender. Menurut penelitian anthropolog Australia, Sharyn Graham dalam research reportnya; Sex, Gender and Priests in South Sulawesi, Indonesia, IIASNewsletter|#29| November 2002 27 , budaya Bugis mengenal empat jenis gender dan satu para-gender; laki-laki (oroane), perempuan (makunrai), perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki ( calalai), laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan (calabai) dan para-gender bissu (Lihat juga Manusia Bugis, C Pelras, hal 191). Jenis yang terakhir ini lebih banyak disalah artikan dan dianggap identik dengan jenis calabai, walau secara peran dan kedudukannya dalam budaya Bugis tidak demikian. Juga, tidak sedikit yang mempertautkan keunikan para-gender Bissu ini dengan kepercayaan lokal yang disebut Tolotang, hal yang mana dibantah secara nyata oleh komunitas Amparita Sidrap yang menjadi representasi penganut Tolotang dalam suku Bugis.

Posted in BUDAYA BUGIS | Leave a Comment »

Ruh Bugis-Makassar Tergerus di Tanah Sendiri

Posted by Rustan pada Juli 2, 2009

Kampus Merah terbangun dari latar belakang multibudaya, tetapi budaya lokal itu sendiri kini tak dilirik lagi.

Sebuah petuah kuno dalam Lontara mengatakan jika panen tak berhasil pada suatu kerajaan, maka yang diperiksa pertama kali adalah Sang Raja. Menilik petuah nenek moyang Bugis ini, kita tergelitik dengan kondisi kampus merah yang kerap kali diwarnai tawuran, kebobrokan moral mahasiswa, dosen yang mengejar proyek, pegawai akademik yang melakukan pungutan liar. Maka kerajaan kampus merah yang pertama diperiksa adalah ‘rajanya’. Inilah gambaran yang terjadi di kampus ini. Budaya Bugis-Makassar yang sarat akan nilai Fhiloshopis, kini hilang tergerus arus budaya global.

Posted in BUDAYA BUGIS | Leave a Comment »

KARAMPUANG

Posted by Rustan pada Mei 22, 2009

KarampuangSebuah legenda beredar dari kaki Gunung Karampuang, Kabupaten Sinjai,  Sulswesi Selatan. Legenda tentang seorang manusia sakti bernama To Manurung yang turun dari langit dan memberikan sejumlah pesan dan pengetahuan baru bagi warga desa: tentang tatanan hidup sederhana dan pentingnya kebersamaan. Pengetahuan itu hingga kini masih ditaati para pengikutnya yang hidup mengucilkan diri di sebuah desa adat yang disebut Karampuang.

Selengkapnya…>>>

Posted in BUDAYA BUGIS | Leave a Comment »