www.PortalBugis.Com

"Catatan Bugis Di Rantau & Budayanya"

Akkalabingeng

Mengukur Kejantanan dari Hembusan Nafas
Assikalaibineng secara harfiah berarti cara berhubungan suami istri. Akar kata serupa juga dipakai masyarakat petani sawah di awal masa tanam.

Karena padi dan sawah diibaratkan istri, maka suamilah diberi otoritas untuk menggarap dan menanam.
Karena ajaran lahir di masa kuatnya paternalistik dan belum ada gerakan persamaan gender, makanya ajaran Kitab Persetubuhan Bugis ini lebih banyak ditujukan kepada suami. Kitab ini paham betul emosi perempuan dan karena perasaan malunya mereka amat jarang menjadi inisiator.
Inilah yang sekaligus menjelaskan mengapa ilmu tarekat atau tasawuf seks ala Bugis-Makassar ini diajarkan terbatas ke calon mempelai pria, memilih momentum beberapa hari sebelum akad nikah.
Setelah pengetahuan mandi, berwudu, dan salat sunah lalu tafakur bersama yang disebut nikah batin, maka sampailah pada tahapan lelaku praktis, cumbu rayu, penetrasi, dan masa pascaberhubungan.
Karena konsep Assikalaibineg mengedepankan ideologi dan tata krama, disarankan agar sebelum aktivitas penetrasi dimulai dilakukan dalam satu sarung, atau kain tertutup, atau kelambu.
Masyarakat Bugis, seperti dikemukakan Christian Pelras dalam bukunya, Manusia Bugis (Oxford: Blackwell, 2006) memang memiliki sarung khusus yang bisa memuat sepasang suami istri.
Sarung jenis ini tentu sangat susah didapat di pasar-pasar sandang kebanyakan.
Namun toh, selimut bisa menjadi alternatif.
Buku ini menggunakan istilah makkarawa (meraba) dan manyyonyo (mencium) untuk tahap foreplay.
Ini dengan asumusi pihak pria sudah mengetahui 12 titik rangsangan, dan rangkaian mantra (paddoangeng).
Meraba lengan adalah titik pertama yang disarankan dikarawa, sebelum meraba atau mencium titi-titik lainnya. Pele lima (telapak tangan), sadang (dagu), edda’ (pangkal leher), dan cekkong (tengkuk) adalah sejumlah titik yang dalam buku ini direkomendasikan di-karawa dan dinyoyyo di tahap awal foreplay.
Setelah bagian badan tubuh, mulailah masuk di sekitar muka.
Titik “rawan” istri dibagian ini disebutkan; buwung (ubun-ubun), dacculing (daun telinga), lawa enning (perantara kening dia atas hidung), lalu inge (bagian depan hidung).
Di titik ini juga disebutkan, tahapan di bagian badan sebelum penetrasi langsung adalah pangolo (buah dada) dan posi (pusar).
Dalam foreplay berupa makkarawa dan manyonyyo ini, buku menyarankan tetap tenang dan mengatur irama naffaseng (nafas).
Karena kitab persetubuhan ini sangat dipengaruhi oleh ajaran fiqhi al’jima atau ajaran berhubungan seks suami istri dalam syariat Islam, maka proses menahan nafas itu direkomendasikan dengan melafalkan zikir dan menyatukan ingatan kepada Allah Taala.
Apakah melafalkan zikir itu bersuara? Tentulah tidak. Zikir dan mantra dalam bahasa Bugis itu dilafalkan dalam hati.
Dalam komentar penulis buku ini,menyebutkan, ejakuliasi dini oleh pria banyak terjadi karena pikiran suami terlalu fokus ke pelampiasan untuk mencapai klimaks.
Perlu diketahui, seperti ajaran agama Islam, kitab Assikalaibineng bukan seperti buku-buku lain yang mengajarkan gaya dan teknis bersenggama dan melampiaskan nafsu belaka.
Laiknya ibadah, inti dari ajaran Assikalibineng adalah mengelola nafsu birahi ke arah yang lebih positif dan bermanfaat secara spiritualitas.
Bukankah seperti kata Nabi Muhammad SAW usai memenangkan Perang Badar, kepada sahabatnya yang bersuka, diperi peringatan, bahwa Perang Badar belum ada apa-apanya.
Perang terbesar manusia Muslim adalah bagaimana menahan hawa nafsu.
Dan nafsu yang amat sulit ditahan oleh manusia secara pribadi adalah nafsu birahi setelah nafsu ammarah (emosi kejiwaan).
Di bagian lanjutan tulisan ini, nantinya akan mengulas beberapa lafalan teknik menahan nafas.
Namun, bagian lain halaman buku itu juga diberikan tips parktis untuk mengetahui apakah seorang suami siap berhubungan seks atau tidak, maka disarankan bagi pria untuk mengangkat tangan kirinya, lalu menghembuskan nafas dari hidung.
Jika nafas yang keluar dari lubang hidung kanan lebih kuat berhembus, maka pertanda kejantanan yang bangkit.
Namun jika hembusan dari lubang kiri lebih kuat, maka sebaiknya sang suami menunda lebih dulu (hal 141).
“.. dalam keyakinan kebatinan Bugis, nafas hidung yang lemah dan kuat berkaitan langsung dengan ilmu kelaki-lakian atau kejantanan seorang pria…”. (thamzil thahir)

http://ininnawa.com/?p=27


Daerah G-Spot Ala Bugis
DATE/TIME:01/19/2009/10:37:56 Ketahuilah bahwa uraian hari ini (soal kitab persetubuhan bugis), membuat sy secara refleks menguji nafas hidung dan ternyata hembusan lubang kanan masih lebih deras (tokcer), meski usia sudh msk 55. Ha.ha.ha +62811415***

Pesan singkat salah seorang pembaca Tribun di atas, hanyalah satu dari seratusan pertanyaan dan eskpersi senada yang masuk ke redaksi, sejak tulisan ini muncul pekan lalu.
Muhlis Hadrawi, penulis buku ini, senantiasa mengingatkan di bagian awal, tengah, dan mengunci di akhir bab tulisannya, bahwa Assikalaibineng bukanlah ilmu pelampiasan hasrat biologis sebagai wujud paling alamiah sebagai makhluk saja.
Penulis menggunakan istilah tasawupe’ allaibinengengnge untuk menjelaskan kedudukan persetubuhan yang lebih dulu disahkan dengan akad nikah dan penegasan kedudukan manusia yang berbeda dengan binatang saat melakukan persetubuhan.
Ini juga sekaligus wujud penghormatan dan menjaga martabat keluarga dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah (hal 123).
Pada bagian awal bab tata laku hubungan suami-istri, Muhlis mengomentari satu dari tujuh manuskrip Assikalaibineng yang menjadi rujukan utamanya menulis buku ini.
Dikatakan ini sebagai pustaka penuntun tata cara hubungan seks untuk suami-istri sebagai ilmu yang dipraktikkan Sayyidina Ali dan Fatimah.
Muhlis memulainya dengan kisah perbincangan tertutup Ali dan istrinya, yang juga putri Nabi, di tahun ketiga pernikahan mereka.
Perkawinan keduanya menghadapi satu masalah sebab Ali belum mengetahui dengan benar bagaimana tata cara menggauli Fatimah.
“Kala itu,” tulis Muhlis, “Fatimah mengeluarkan ucapan yang menyindir Ali, “Apakah kamu mengira baik apabila tidak menyampaikan titipan Tuhan?”
Ali kontan merasa malu dan sangat bersalah. “Ali mulai sadar kalau ia belum memberikan apa yang menjadi keinginan Fatimah di kamar tidur. Maka Ali meminta Fatimah memberitahu keinginan Fatimah dan memintanya untuk mempelajarinya.”
“Fatimah pun merekomendasikan Muhammad Rasulullah, yang tak lain bapak Fatimah. Datanglah Ali ke Nabi Muhammad dan selanjutnya terjadilah transfer pengetahuan dari bapak mertua kepada anak menantu.”
Transfer ilmu atau proses makkanre guru seperti ini amat biasa dalam tradisi Bugis-Makassar, khususnya keluarga yang mengamalkan ajaran tarekat-tarekat.
Kisah di atas sekaligus menjelaskan bahwa lelaku dan zikir Assikalaibineng tak terlambat untuk dipelajari.
Memang idealnya, tata laku hubungan Assakalaibineng ini diajarkan di awal masa nikah, namun bagi mereka yang ingin mengamalkannya hanya perlu membulatkan tekad, untuk mengubah cara padangnya, bahwa hubungan suami-istri versi Islam yang terangkum dalam lontara ini, berbeda dengan literatur, hasil konsultasi, atau frequent ask and question (FAQ) soal seks yang selama ini sumber dominannya dari ilmu kedokteran Barat.
Pada sub bab Teknik Mengendalikan Emosi Seks atau Hawa Nafsu (hal 150), buku ini menyajikan laku zikir untuk mengiringi gerakan seksual dari pihak suami.
“lelaku zikir ini menjadi penyeimbang nuansa erotis dan terkesan tidak vulgar.”
Teknik mengatur napas adalah inti dari ketahanan pihak suami.
Untuk menjaga endurance napas suami agar istrinya bisa mencapai orgasme, misalnya, saat kalamung (zakar) bergerak masuk urapa’na (vagina) disarankan membaca lafal (dalam hati) Subhanallah sebanyak 33 kali disertai tarikan nafas.
“Narekko mupattamamai kalammu, iso’i nappasse’mu”.
Sebaliknya, jika menarik zakar, maka hembuskanlah napasmu (narekko mureddui kalamummu, muassemmpungenggi nappase’mu), dan menyebutkan budduhung.
Bahkan bisa dibayangkan karena babang urapa’na (pintu vagina) perempuan ada empat bagian, maka di bagian awal penetrasi, disarankan hanya memasukkan sampai bagian kepala kalamummu lalu menariknya sebanyak 33 dengan tarikan napas dan disertai zikir, hanya untuk menyentuh “timungeng bunga sibollo” (klitoris bagian kiri).
Mungkin bagi generasi sekarang, lafalan zikir dalam hati saat bersetubuh akan sangat lucu, namun pelafalan Subhanallah sebanyak 33 kali dan perlahan dan diikuti tarikan napas akan membuat daya tahan suami melebihi ekspektasi istri! (hal 80)
“Mmupanggoloni kalamummu, mubacasi iyae/ya qadiyal hajati mufattikh iftahkna/…..! Pada ppuncu’ni katauwwammu pada’e tosa mpuccunna bunga’e (sibolloe)/tapauttmani’ katawwammu angkanna se’kkena, narekko melloko kennai babangne ri atau, lokkongi ajae ataummu mupallemmpui aje; abeona makkunraimmu, majeppu mukennai ritu atau…., na mubacaisi yae wikka tellu ppulo tellu/subhanallah../”
Artinya, “….arahkan zakarmu, dan bacalah ini/Ya qadiyyal hajati mufattikh iftakhna/….kemudian cium dadanya,. lalu naikkan panggulnya, … ketika itu mekarlah kelaminnya layaknya mekarnya kelopak bunga, masukkan zakarmu hingga batas kepalanya, dan bacalah subhanallah 33 kali…. (hal 144).
Penggunaan kata timungeng bunga sibollo sekaligus menunjukkan bagaimana para orang Bugis-Makassar terdahulu mengemas ungkapan-ungkapan erotis dalam bentuk perumpamaan yang begitu halus dan memuliakan kutawwa makkunraie (alat kelamin perempuan), dan ungkapan kalamummu (untuk zakar). (thamzil thahir)


Terapi Kelingking Untuk Tetap Langsing
Lapawawoi Karaeng Sigeri, Raja Bone yang terkenal cerdas, termasuk seorang suami yang mempelajari dan mengamalkan ajaran assikalaibineng. Stidaknya fakta ini dikonfirmasikan dari lontara Mangkau Bone Ke-31 ini yang secara rapi terdokumentasikan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta.

Manuskrip asli ini pulalah yang menjadi satu dari 44 lontara rujukan utama Muhlis Hadrawi, penulis buku Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis, yang diterbitkan Penerbit Ininnawa, Makassar (2008).
Secara teknis buku ini terdiri dari 189 halaman. Sebanyak 64 halaman terdiri dari transliterasi asli “kitab assikalaibineng” lontara ke dalam abjad melayu berikut terjemahannya. Inilah matan asli dari kitab tassawupe allaibainengengeng yang merupakan peninggalan leluhur Bugis-Makassar yang teleh terpengaruh dengan ajaran Islam.
Karena buku ini merupakan disertasi untuk meraih gelar magister bidang filologi (ilmu tentang Bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa dalam bentuk manuskrip asli) di Universitas Indonesia, maka 51 halaman di bagian awal lebih banyak mendiskripsikan latar belakang, asal usul naskah, dan metodologi penelitian.
Sedangkan di bagian akhir, Tata Laku Hubungan Suami Istri, isinya lebih merupakan ringkasan, analisis, sekaligus komentar penulisnya, yang diperkaya dengan literatur penunjang. Namun, bagi pembaca awam yang tidak lagi mengerti Bahasa-bahasa Bugis terhadulu, justru bab akhir inilah yang membatu mendapatkan intisari dari manuskrip tua, yang hingga awal decade 2000, masih beredar di kalangan elite terbatas, masyarakat kita.
Kepemilikan naskah ini oleh Lapawawoi yang kini dimuseumkan di Perpustakaan Nasional, tulis Muhlis, mempertegas sirkulasi ajaran ini selain dimiliki kalangan ulama/cendekia pesantren, pengetahuan ini juga milik bangsawan dan raja-raja Bugis Makassar.
Selain pengetahuan bersetubuh ala bugis, Kitab Persetubuhan Bugis, juga mengajarkan sistem rotasi waktu yang baik untuk berhubungan, dan tata cara perawatan tubuh bagi pihak suami dan istri. Tata laku dan tahapan ini semua dilakukan dalam satu rangkaian dan satu tempat
Untuk melangsingkan tubuh dan memperhalus kulits istri misalnya, suami tak perlu repot-repot menyisihkan uang dan mengantar pasangannya ke pusat kecantikan tubuh. Seperti spa center, steam room Jacuzzi, atau membayar kapster salon.
Di kitab mengajarkan rutinitas kesederhanaan namun tetap dalam bingkai kerahasiaan, tidak diketahui oleh orang banyak.
Untuk menjaga kebugaran tubuh, assikalaibineng misalnya merekomendasikan di kamar tidur dan massage (pijitan) rutin pasca-bersetubuh. Sedangkam untuk perawatan kulit, juga tak perlu cream pelembab atau whitening motion,
Kitab ini mengajarkan manfaat penggunaan “air mani” sisa yang biasanya meleler di bagian luar babang urapa’ (vagina) istri dan kalamummu (zakar) pihak suami dan sejumlah mantra bugis-Arab, secara subtansial lebih merupakan niat, sekaligus ekspresi kasih-sayang suami kepada istri pasca-berhubungan,
Kitab ini menyindir perilaku suami yang langsung tidur lelap atau langsung meninggalkan kamar tidur, sementara istri belum mendapatkan kepuasan, biasanya akan membuat wanita terhina. Di kitab ini. Perlakuan itu diistilahkan dengan, teretta’na narekko le’ba mpusoni (adab setelah persetubuhan).
“(h.75) . Rekko mangujuni ilao manimmu takabbereno wekka eppa/urape’ni alemu, nupassamangi makkeda; alhamdulillahahi nurung Muhammad habibillah./ nareko purano mualai wae, muteggoi bikka tellu, nareko purano, mualani minyak pasaula, musaularenggi kutawwamu apa napoleammengi dodong mupogaukangeki paimeng/Apa’ nasenggao manginggi’/ Aja mu papinrai gaumu denre purai mupogau, iya na ritu riyaseng temanginggi (hal. 157).
Kira, kira artinya bebasnya, jika air manimu sudah keluar maka bertakbirlah empat kali. Kemudian turunkan tubuhmu dan ucamkan hamdalah dan pujian ke nabi Muhammad. Jika engkau sudah melakuklannya, maka lakukanlah perbuatan yang menyenangkan perasaanya. (h.76) sebagai tanda sayang. Jika usai minumlahair dengan tiga tegukan, dan ambilah minyak gosokdan urutlah kelaminmu agar tubuhmu pulih kembali dan agar jagan sampai kalu lelah. Janganlah kamu mengubah perbuatanmu seperti yang kamu lakukan sebelumnya, demikianlah maka kamu akan disebut lelaki yang tidak merasa bosan dengan istrinya,”
Sedangkan tahapn selanjutnya, usai berhubungan, ambilah air mani dari liang fajri yang sudah bercampur dengan cairan perempuan. Letakakkanlah di telapak tangan mu, air mani dicampur dengan air liur dari langit-langit (sumur qalqautsar) suami, sebelum mengusap air mani tersebut ke tubuh istri, terlebih dulu membaca doa dengan lafalan bugis, “waddu waddi, mani-manikang”. Mani riparewe, tajang mapparewe, tajang riparewekki…” (hal.158)
Aiar mani basuhan ini bisa dipijitkan ke titik-tikik 12 rangsangan agar tidak kembeli berkerut, atau memijit bagian panggul dengan tulang kering di ujung bawah jari kelingking, untuk membuat tubuh istri tidak melar tapi tetap ceking.. (thamzil thahir)


Mau Anak Putih, Bersetubuh Setelah Jam 5 Subuh
TEKNIK bertahan dalam persetubvuhan menjadi hal yang sangat penting dan mendapat tempat khusus dalam Assikalaibineng. Dan sekali lagi, pihak suami menjadi faktor kunci.

Kitab peretubuhan Bugis ini tahu betul bahwa pihak suami senantiasa lebih cepat menyelesaikan hubungan ketimbang perempuan. Menenangkan diri, sabar, konsentrasi, dan memulai dengan kalimat taksim amat disarankan sebelum foreplay.
Manuskrip Assikalaibineng amat mementingkan kualitas hubungan badan ketimbang frequensi atau multiorgasme. Assikalaibineng adalah ilmu menahan nafsu, melatih jiwa untuk tetap konsentrasi dan tak dikalahkan oleh hawa nafsu.
Namun pada intinya, Assikalaibineng bukanlah lelaku atau taswawwuf untuk berhubungan badan, lebih dari itu assikalaibnineng adalah tahapan awal untuk membuat anak yang cerdas, beriman, memiliki fisik yang sehat. Inti dari ajaran ini adalah bagaimana membuat generasi pelanjut yang sesuai tuntutan agama.
(h.151) Banyak teori seksualitas mengungkapkan bahwa potensi enjakulasi sebagai puncak kenikmatan seksual bagi laki-laki lebih tinggi ketimbang perempuan. Perbandingannya delapan kali untuk suami, dan satu kali bagi istri.
Bahkan, dapat saja seorang istri tidak pernah sekalipun merasakan orgasme seteles sekian kali, bahkan sekian lama hidup berumah tangga. “Assikalaibaineng, mengkalim bahwa ini terjadi karena pihak suami sama sekali tak tahu atau bahkan tak mau tahu dengan lelaku seks yang mengedepankan kualitas.”
Mengutip sebuah buku lelaku seks sesusi ajaran Islam, yang diterbitkan di Kuala Lumpur, dalam catatan kaki di halaman 164, Muhlis mengomentari “…Hampir 99 persen lemah syahwat (kelemahan nafsu jantan) adalah timbul dari sebab-sebab kerohanian. Emonde Boas, seorang dokter asal Amerika bahkan pernah melakukan penelitian, dari 1400 lelaki yang didata mengidap penyakit lemah syahwat, hanya tujuh yang lemah karena sebab-sebab jasmani, yang lainya karena sebab rohani atau psikologis,”
Dia melanjutkan, “kejiwaanlah yang menyebabkan faktir terbesar sekaligus penggerak seseorang melakukan hubungan seks, sedangkan tubuh dan alat reproduksi hanya merupakan alat pemuasan bagi melaksanakan kehidupan kejiwaan seseorang.
Sedangkan teknik mengelola nafas dengan zikir, cara penetrasi, dan menutup hubungan dengan pijitan ke sejumlah titik rangsangan perempuan, dan menemani istri tertidur dalam satu selimut atau sarung merupakan bentuk akhir menjaga kualitas hubungan.
Pengetahuan praktis seperti waktu yang baik dan kurang baik untuk berhubungan badan juga secara rinci diatur dalam kitab ini. “Tidak sepanjang satu malam menjadi masa yang tepat untuk bersetubuh.” (hal.166)
Terdapat keterkaitan waktu bersetubuh dengan kualitas anak yang terbuahi, seperti warna kulit anak. Untuk memperoleh anak yang berkulit putih, peretubuhan dilakukan setelah isya. Untuk anak yang berkulit hitam, persetubuhan dilakukan tengah malam (sebelum shalat tahajjud), anak yang warna klitnya kemwerah-memerahan dilakukan antara Isya dan tengah malam.
Sedangkan untuk anak berkulit putih bercahaya, bersetubuhan dilakukan dengan memperkirakan berakhirnya masa terbit fajar di pagi hari. Atau lebih tepatnya dilakukan usai solat subuh, antara pukul 05.15 hingga pukul 06.00 jika itu waktu di Indonesia. Ini sekaligus supaya mempermudah mandi junub.
Secara khusus kitab ini adalah menuntut pihak suami sebagai inisiator dan mengingatkan kepada istri, agar menyesuaikan waktu tidur dengan keinginan melakukan persetubuhan. Sebab ternyata, persoalan waktu amat berdampak secara psikologis maupun biologis, terutama pihak istri.
Teks assikalaibineng secara spesifik menyebutkan adanya kaitan waktu tidur istri dengan ajakan suami bersetubuh.
Assikalaibineng A hal.72-73 menyebutkan, “bila suami mengajak istri berhubungan saat menjelang tidur, maka ia merasakan dirinya diperlakukan [penuh kasih sayang (ricirinnai) dan dihargai (ripakalebbiri). Akan tetapi jika istri sedang tidur pulas, lantas suami membangunkannya untuk bersetubuh, maka istri akan merasa diperlakukan laiknya budak seks, yang disitilahkan dengan ripatinro jemma’.
Soal bangun membangunkan istri yang tidur pulas, assikalaibineng juga memberikan cara efektif. Kitab ini sepertinya tahu betul, bahwa jika usai orgasme sang istri biasanya langsung tertidur. Untuk menuntnjukkan kasih sayang, maka usai berhubungan lelaki bisa mengambil air, lalu mercikkan satu dua tetas ke muka istri. Setelah istri terbangun, lelaki memberikan pijitan awal di antara kening, mata, menciumim ubun-ubun, memijit bagian panggul lalu bercakap-cakap sejenak. Percakapan ini bagi istri akan selalu diingat dan membuatnya. (thamzil thahir)

Sebenarnya ilmu seks ala bugis ini sangat jauh berbeda dengan pemaparan-pemaparan Saudara Mariska Lubis. Tetapi sekiranya kearifan lokal kita kaya akan berbagai hal mengenai ilmu pengetahuan dan mungkin saja pengetahuan medis yang selama ini sering kita gunakan belum lengkap dibanding pusaka kearifan lokal kita. Bila keduanya kombinasikan mungkin akan lebih Dasyat kali yah

Tabe Lompo Daeng Mariki Di

46 Tanggapan to “Akkalabingeng”

  1. Nur'aedy said

    Assalamu alaikum.wrwb.Ilmu ini bsa d dptkan melalui tarekat, tp qt hrs pntar2 bertanya krna banyak org yg cmn bhas d bagian kulit klw itu d ibratkan buah.ini ad/ pegangan org2 dlu uk/ m’jg kwlitas kturunan, trus mharx tdk main2. (Kerbau 1psg). Klw b’mnat bkux prnah z liat d gmdia, trim’s

  2. rudi said

    magello ladde yahe paddisengeng

  3. chonix said

    Adakah parembolo to?

  4. e cappo, kiringenki mai lontara seks ogi e ri e Mail ku/no HP. 081343673900 a.n : mimienmappe bataramario soppeng monroe ri tana berru tanete, tabe massimangna pale cappo

  5. rustam said

    wah ini ilmu bugis yg kebetulan sekali aq mau nikah di bln 1 ini… walau saya org bugis yg sangat tdk tau tentang bugis karena lahir di palembang dan ayah saya org bugis wafat saat saya masih kecil, saya bingung gimana nanti anak saya, hehehehe.. di mana saya bs dapat buku tentang ini,,,

  6. bagus, bisa jadi pedoman

  7. inforaja said

    jadi merangsang hihihi

  8. Artikel yang inspiratif, terima kasih pembabarannya🙂

  9. sudino said

    perna jg aq dgr ceritanya,tp tdk ngerti sgt hal2 tsbt,maklum lh aq bugis anak malaysia,dmana aq bisa dptknt buku trsbt??

  10. anonim said

    aggurung maraja ,,,aggurung akkenrung

  11. Sujiono said

    Kalau mengatasi sakit pinggang gimana caranya ya?

    • SADA3-e said

      assalamu alaikum wr, wb
      tabe cappo, aga kareba tu?
      e’ cappo, mw ka belah tanx Qta de’gi mari gaga ta seding
      rahasiana neneta di tw sm org baxk? sekali lg tabe cappo wassallam…

  12. pasolle' said

    tips tarik nafas & keluarkan dari hidung tu emamng benar & kita mencari nafas yg lebih besar dari kiri kenan & disertai niat..cara itu bukan cuma diperuntukan utk assikalabaineng saja tp blh dlkukan saat kt mahu kluar rumah dngat adanya niat..

  13. Adho said

    Aduuuh magi nappi mupau,ettana padaki olo’koloE.

  14. randy said

    bagus betul ilmu dari nenek moyang orang bugis makassar….beda dgn ilmu sex dr. boyke dn…..

  15. kaharuddin said

    bagus klo bisa d donload aja selessureng?

  16. nandar said

    Sya sngat respek dgan buku lontarak ini pa lagi kta sbgai anak bngis mestix bnyak blajar dgan kbudayaan kta sndiri. Dmana ya bsa dpat bukux pa masih ada stockx gthu?

  17. arzul said

    Aku bangga jadi orang BUGIS…..!
    Tradisi budaya Bugis memang pantas untuk di lestariakn & di junjung tinggi,

  18. MAKASIH ATAS SEMUA INFO SAYA PIKIR INI MASH PRLU dsbr luaskn agr mreka saudara2 bugs bsa sling mngetahui sblum kaum adm n hawa dprtemukan………….nntix. saya sngat stuju dngn brbagai lontara ogi,na. cocoto nasennge daeng ta`iyaccoeriwi lalenng anging`e pole riessurenna nennia weddingngi ripahang sblumx saba riulalenna engka passo hawa sbawa adam …….angkami koro iya upahang eloka makkutana risumpuloloe tega onrona or5oanewe tegato onronna makkunraie tegae magello ripake anhgin marajae nennia malawae………!!!!!!!!!!

    terima kasi baxak dhiiiiiiiiiii………keturunan bugis BOSOWA( Bone_S0ppeng_Wajo)

    • bigbhard said

      iyya ko knangge maraja.. Oroaneki’ asenna.
      Iyya ko kirie maraja .. Makkundraiki asenna.
      napase kanan’e asenna JABALULLAHI
      napase kiri’e asenna JALALULLAHI

      Pada engk wettunna ipake….

  19. ANSAHAR said

    ASSALAMUALAIKUM..SAYA SANGAT SUKA DENGAN ASSIKABINEANG INI..KALAU BOLEH TOLONG SIARKAN LEBIH BANYAK LAGI…

  20. Basir said

    Mantap taw,wa

  21. Arwin said

    Saaya mau pesan buku kamasutra Bugis ini,tolong kirimkan alamat penerbitnya ke email saya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!salam dari Arwin,Desa Simpang Pait,Longikis,Paser,Kalimantan Timur.

  22. hamdan arief said

    skdar info buat yang nanya dimana didapatkan buku tsb,,beberapa hari yg lalu sempat jalan2 di Gramedia MP, disana masih ada stokx buku tsb.

    • Shahrudin Othman said

      Assalamualaikuim…
      Saya sangat ingin untuk memiliki buku Assikalaibineng tersebut. Bagaimana kah cara terbaik untuk
      mendapatnya, kerna saya tinggal di Malaysia, memangnya saya lahir disini, pernah juga saya berguru sebelum pernikahan dulu, tapi jika ada catatan mungkin akan lebih baik, terutama untuk diwarisi, Harap dapat email saya, shahrudin_othman@yahoo.com. didahului jutaan terima kasih..

      Tabe Lompo Bacok Haji Semang Di.

      • Muh.Syukri Basri said

        Ilmu ini salah satu yang di peroleh melalui tarekat ( mattareka “istilah bugis” ).oleh ulama dulu tidak di publikasikan karena khawatir jangan sampai ada yang menggunakan untuk maksud negatif (pranikah).bagi anak muda yang memang akan menikah dan ingin mengetahui ilmu ini asalkan di pakai untuk kebaikan, bukan untuk di komersilkan atau di ajarkan pada orang yang belum tepat.boleh hubungi saya.

      • A. karim fikhi said

        Pak Muh. Syukri Basri, dimana saya bisa menghubungi bapak? terimakasih sebelumnya..

      • A. karim fikhi said

        email saya casanova.baturajo@gmail.com

  23. Dody said

    imelku dody_rs@yahoo.com

  24. Dody said

    mau sekalika beli bukunya tapi tidak kutau dimana..suda kucobami cari2 di internet mw download ebooknya tp tidak dapatka..kucari di webx gramedia tidak ada juga.jadi..ces kalo ada yg tau dimana tolong kasi tauka di imelku skrg sy tinggal di kendari tp saya makassar asliji..

    makasi di..

  25. hamdan arief said

    Q belum nikah,,, tp bukunya udah di tangan,,,yachh bukan karena apa,, tapi Maelo’ uwaggurui supaya ndak jadi bongngo dlm hal asikalaibineng nantinya dg pasanganku.

  26. butuh pengetahuan yang lebih banyak….

  27. SyahidRahman LaFallaawa Daeng Patekka' said

    Daerah G-Spot Ala Bugis
    DATE/TIME:01/19/2009/10:37:56 Ketahuilah bahwa uraian hari ini (soal kitab persetubuhan bugis), membuat sy secara refleks menguji nafas hidung dan ternyata hembusan lubang kanan masih lebih deras (tokcer), meski usia sudh msk 55. Ha.ha.ha +62811415***

    hahaha tuju tu daeng..hahha

    d mana mau dapatkan bukunya ni???…sye dr kuching sarawak

  28. hrplus said

    Edd… Pernahmi kupegang bukunya! Tp malu2ka ambilki, ka samaka pacarku bela… Tp Insya Allah klo mau kawin kuusahakan beli..

  29. ANDI MARLINA NOBEL said

    Assalamualaikum …

    Terimakasih … ilmu berguna buat saya pribadi dan suami.

  30. Sabahaidy Konche said

    Bagus rencananya tapi dizaman ini tetang “siakalabaineneng” jarang anak2 bugis yg mempelajarinya terutama sekali diri saya ini , Bugis Sabah (Perantau), lagi pun tiada buku2 ataupun naskah2 yg boleh di dapat di kedai(toko) buku dan cadangan saya agar rencana ini dibukukan dansekiranya boleh dijual di pasaran….semoga ia memberi menafaat kepada kita semua…wassalam bugis Tawau, Sabah.

  31. Daeng H. Mapuji said

    DAENG H. MAPUJI ; Zaman sekarang kalau mau pempelajari ilmu sex ala Bugis ( siakalabainengeng ) sudah susah karena ; 1.Bukunya susah didapat 2.Mau bertanya sama orang tua , rasanya malu lagi pula belum tentu Ia tahu 3. kalau mau beli buku Akalabainengeng dimana , saya sekarang tinggal di JABAR ( Bandung ) ….terimakasih.

  32. stain bone'HTN said

    assalamualaikum…
    smoga bcaan in tidak ad yg bertentangan dengan AL quran dan hadis,

  33. Ramli Mallajareng said

    makessito sedding agguruta tennapodo maega bacai teknik akkalabineng ala Bugis ini tok jer memeng …. nareko diamalakengi

  34. Kisman said

    mmmaariii ki di’?!?!?!?!… mantaps infonya..!

  35. wija said

    ada gau’ supaya kebbeng (kebal) ? ajarpi

  36. Imam mubarok said

    Bagus!
    Sy jadi sadar bhwa seks tdk semata-mata menuruti hawanafsu!

  37. Rashid al bugisi said

    ajak bicara makindru massirik kecuali mangguru sibawa tau alim ulamak idik rahsia maneng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s