www.PortalBugis.Com

"Catatan Bugis Di Rantau & Budayanya"

Kisah Kepulangan La Galigo Ke Cina Dan terpikatnya kepada I Da’Batangeng

Sesudah mengadakan pembicaraan dengan cucu saudari saudaranya (cucu dari Batara Lattu yaiu sodaranya La Pangoriseng) maka La PAngoriseng bersaudara menuju istana Lakko Manurungnge ri Ale Luwu. Diperintahkannya kepada segenap rakyat, untuk berkumpul di depan istana. Setelah seluruhnya berkumpul, mereka kemudian bersama-sama berangkat menuju pelabuhan menjemput paduka yang dipertuan (I Lagaligo) untuk mendarat, menjejakkan kaki dipusat Kerajaan Luwu.

Namanya titah Raja, perintah Sang Penguasa maka dalam sekejap mata saja terlaksanalah seluru titah baginda La Pangoriseng. Berdatanganlah segenap rakyat di negeri Luwu, memenuhi halaman istana raja Luwu.
Rakyat banyak itu riuh rendah, karena bersuka cita atas kedatangan Baginda Yang Mulia yang sebentar lagu akan dijemput dipelabuhan.

Timbullah kembali semangat hidup rakyat luwu, karena datangnya putra mahkota (I La Galigo) Opunna Ware. Lalu berangkatlah I La Galigo sampai ke istana Lakko Manurungnge Mai ri Luwu. Setelah tiba dilihatnya jamuan lengkap, ditunggui oleh puluhan dayang-dayang. Bertanyalah I La Galigo :
“Apa gerangan yang telah terjadi wahai para dayang-dayang, sehingga di sini tersedia jamuan lengkap yang kalian tunggui, padahal tidak ada raja yang duduk dihadapan kalian ?”

Para dayang-dayang lalu menjawab:
“Santapan sehari-hari wahai Paduka yang mulia untuk Baginda (Sawerigading) yang pergi berlayar, mengasingkan dirinya dinegeri yang jauh. Seorang pula yang telah gaib, melayang naik ke Botting-Langi’ (Tenriabeng, adik kembar Sawerigading), menemukan jodoh di Ruwa Lette. Beliaulah yang disiapkan santapannya.”

Berkata I La Galigo:
“Kumpulkan segenap dayang-dayang ini wahai Ina! Janganlah kalian menunggui jamuan, padahal di hadapan kalian tidak ada seorangpun raja yang bersantap.”

Sesudah itu I La Galigo meneruskan langkahnya hingga ke ruangan tempat penyimpanan Genrang mpulaweng Manurungnge Mai ri Luwu. Lalu diraihnya Genrang itu, kemudian ditabuhnya bersama-sama dengan La Sulolipu, suara
genrangnya bertalu-talu. Tak ubahnya bunyi genrang apabila Sawerigading yang menabuh bersama La Pananrang.

Maka bangkitlah Sawerigading di tepat tidurnya, sembari berkata:
“Telah tiba wahai adinda Cudai, putramu di Luwu. Kanda dapat mendengarkan bunyi gendangnya sampai kemari.”

Batara Lattu’ pun menggeliat diatas pembaringannya sambil berkata:
“Telah tiba nian putranda di Luwu, bermukim di tanah leluhurnya Wattang mpare sambil menabuh genrang mpluaweng manurungnge, bersama-sama La Pananrang.”

Berkatalah sang pengiring/pengawal Batara Lattu sambil menghaturkan sembah sujud:
“Konon kabarnya wahai Paduka yang mulia! Dia adalah putranda dari ananda Sawerigading yang berbalasan dengan putranya La Pananrang menabuh genderang di luar.”

Batara Lattu, berkata:
“Suruhlah ia masuk ke dalam kamarku, agar aku bertutur sapa dengan bocah itu.”

Maka berjalanlah I Lagaligo memasuki kamar kakeknya, Batara Lattu. Iapun menghaturkan sembah sujud sebanyak tiga kali, kemudian mengambil tempat duduk dihadapan Batara Lattu. Berkatalah Batara Lattu:
“Tinggallah dikau di Luwu wahai ananda Galigo, menemaniku, selaku oenggati ayahandamu sebagai Pangeran Mahkota di ibu kota kerajaan Luwu.”

I La Galigo menghaturkan sembah sujud sambil berkta:
“Tapak tangan hamba hanya sekedar gumpalan darah, tenggorokan hamba pun tak ubahnya kulit bawang. Semoga nian hamba tidak kualat dalam menjawab titah paduka.”

lanjut La Galigo:
“Mohon restu paduka yang mulia. Hamba tidak dapat tinggal menetap di Luwu ini, sebab adinda We Tenridio’ sedang terserang penyakit parah. Ia mengidap penyakit yang menuntut diadakannya upacara tradisi di negeri Luwu, sebagaimana halnya yang pernah dilakukan bagi Baginda Ratu yang mulia, Mallajangnge ri Kalempi’na. Demikianlah waha Paduka yang mulia, sehingga ayahanda tercinta Opunna Ware menitahkan hamba untuk menjemput Genrang mpulaweng anurungngE di Luwu ini.”

Berkatalah Batara Lattu:
“Kalaupun demikian berangkatlah ke tanah Ugi wahai ananda Galigo untuk mengantarkan Genrang pluaweng ManurungngE. Kelak, setelah selesai penyelenggaraan upacara selamatan bagi We Dio’, kembalilah kemari, untuk menggantikan ayahandamu sebagai penguasa di Wattang mpare.”

Sesudah selesai bertutur sapa dengan kakeknya, I Lagaligo pun melangkah ke luar. Berkisar satu tahun lamanya I Lagaligo tinggal di Luwu menunggui kakek dan ibu-ibu tirinya, barulah I Lagaligo bersama segenap sepupunya dan seluruh pengiringnya berlayar kembali menuju Cina. Diboyonglah Genrang mpulaweng ManurungngE ri Luw bersamanya.

Upacara selamaan We Dio’ pun diselenggarakan. Sudah empat puluh hari empat puluh malam lamanya penduduk bergembira ria di Latanete sambil memanggang kerbau. Berdatanganlah segenap sepupu I Lagaligo yang perempuan untuk menyaksikan keramaian di Latanete.

Pendopo penuh sesak dengan penduduk yang berdatanagan dari seganap penjuru. Tiada terkatakan ramainya suasana di Cina. Para anak-anak Datu yang tujuh puluh orang itu saling bergantian menabuh genderang, sehingga bunyinya pun bertalu-talu tiada hentinya. Tiada sekejappun genderang itu berhenti ditabuh silih berganti. I Lagaligo berpasangan dengan I La Sulolipu, La Pawennari dengan Sida’Manasa To Bulo’E, La Patenrongi dengan I La Pallajareng, dan berpasanganlah La Tenripale To Lamuru’E dengan La Pammusureng.

Para anak datu yang tujuh puluh orang itu tidak kunjung terlelap. Ingin pulalah I Da’Batangeng, Punna Lipu’E Cina Rilau, puteri La Makkasau menyaksikan keramaian di Latanete, maka bertitahlah ibundanya:
“Wahai anada I Da’Batangeng! Janganlah hendaknya ananda berkunjung ke Cina, hanya untuk menyaksikan keramaian di Latanete/Sinukkerenna I La Galigo/dari Luwu/Cobo’-cobonna maccariwakka I La Semmaga, tidak menyegani sesamanya raja, dianggapnya bahwa hanya dirinyalah raja yang berkuasa di kolong langit. Jangan sampai ditahannya usungan tumpanganmu dan tidak dibiarkannya dikau pulang kembali ke negerimu Cina Rilau.”

Berkatalah La Makkasau, ayahanda I Da’Batangeng, bahwa:
“Mengapakah gerangan wahai ibundanya I Da’Batangeng, maka dikau tidak memperkenankan keinginan putrimu pergi ke Cina, untuk menyaksikan keramaian di Latanete.”

Berkata pula Punna Lipu’E Cina Rilau (La MAkkasau):
“Kalaupun ternyata usungannya ditahan I La Galigo pakah salahnya jikalau ia dijodohkan dengan sepupunya itu. Biarlah putri kita pergi ke Cina, menyaksikan keramaian di Latanete.”

Maka berdandanlah I Da’Batangeng, bersalin pakaian yang indah lalu berangkatlah menuju Cina untuk menyaksikan keramaian di Latanete. Hanya dalam sekejap saja maka tibalah usungan yang membawa I Da’Batangeng. Ia lalu turun di depan istana. Ketika itu I La Galigo sedang mengadu ayam di atas arena adu ayam.
Ketika La Galigo menoleh, dilihatnya sepupunya yang sedang turun dari usungan, lalu melangkahkan kaki naik ke istana. Berkatalah La Galigo:
“Siapakah gerangan putri mahkota nan cantik jelita yang barusan tadi tiba dengan usungan ?”

La Pallajareng, menyahut:
“Rupanya dinda Galigo tidak mengenal sepupu kita Punna Lipu’E Cina Rilau. Ia bernama I Da’Batangeng, puteri Baginda La Makkasau.”

Serta merta I La Galigo mencampakkan ayam jagonya lalu bergegas melangkah ke istana untuk menyusul I Da’Batangeng. La Galigo langsung menuju ke atas pelaminan (lamming) menabuh genderang, berpasangan dengan La Sulolipu. Tabuhan genderangnya berbunyi seperti suara manusia:
“Dahului-dahuluilah si orang Walana itu. Cegat, cegatlah si orang Solo’. Dahuluilah bersanding di atas pelaminan emas. Sungguh takkan kubiarkan Punna Lipu’E Cina Rilau kebali kenegerinya. Saya berkeinginan menyandera usungan putri juwita dari Cina Rilau.”

Bergantian pamandanya menasehati La Galigo, demikian pula ayahandanya turut menasehatkan, bahwa:
“Janganlah wahai ananda Semmagga engkau menyandera usungan dari Cina Rilau. Jangan sampai hal itu menurunkan martabat pamndamu La Makkasau. Jikalau susungan putrinya tersandera. Biarkalah sepupumu itu kembali ke kampung halamannya.”

I La Galigo tidak sudi mendengarkan nasehat ayahnya, lalu berkata:
“Perkenankanlah wahai ayahanda adindaku I Da’batangeng tetap tinggal di istana Latanete, sementara itu ayahanda mengirimkan utusan untuk meminangnya pada baginda La Makkasau di Cina Rilau.”

Berbalaslah Sawerigading:
“Mengapakah gerangan wahai ananda Galigo engkau berkeinginan menyandera usungan dari Cina Rilau, padahal kita tidak menguasai wilayah kekuasaan pamandamu. Kita tidak dapat memaksakan kehendak sendiri terhadapnya.”

Namun I La Galigo sudah lupa diri, tidak sudi lagi mendengarkan nasehat.

30 Tanggapan to “Kisah Kepulangan La Galigo Ke Cina Dan terpikatnya kepada I Da’Batangeng”

  1. teguh said

    la galigo udah ada dalam bentuk buku????

  2. amelius said

    saya ingin bertanya…

    siapa sekarang keturunan langsung dari puteri cina dan atau La Galigo

    thanks gan!

    • rimaru said

      kerajaan luwu sekarang bukan diperintah lagi oleh seorang raja… terakhir diperintah oleh raja Andi Djemma yang ada di palopo sewaktu masih zaman kemerdekaan..

      • andi sawerigading djamruk cibu said

        salah satu keturunan sawerigading adalah datu tenri olle yang telah meninggal pada 01 juli 2011 makamnya bisa kita temui di tanete, barru, berdekatan dgn istana raja tanete yg bernama soraja. sekarang sisa suami, anak2, cucu dan cicit dari datu tenri olle yang masih bisa kita jumpai di daerah barru. suami dari datu tenri olle i2 sendiri bernama datu cibu yg berasal dari sengkang

  3. luwu said

    dengan uraian diatas, apa hubungan la galigo, sawerigading dengan …. bone….n….barru…mohon sedikit penjelasan..

    • rimaru said

      setau saya.. kerajaan luwu itu menghasilkan beberapa anak suku yang menyebar ke seantero sulawesi.. salah satunya suku bugis.. dengan pengaruh itu lah.. daerah2 yg lain menyebut mereka bugis.. walaupun daerahnya berbeda seperti bone soppeng barru dll..

  4. dega said

    cina rilau di masa kerajaan Luwuk belumlah ada…yang ada adalah Tana Cina (Serlayar), bisa dibuktikan di Selayar terdapat peninggalan semacam Nekara yang hanya ada 2 di dunia…satunya lagi di Tiongkok,SELAYAR malah telah tertulis namanya di dalam kitab nagara kartagama bersama Luwuk, Ternate, Buton, dan Bantahiyang (Bantaeng). Mitos yang masih diyakini oleh sebagian orang yang berdarah Luwuk tentang sumpah Sawerigading ketika menyeberangi Selat Selayar juga bukti bahwa ada hubungan yang erat dan perlu diteliti lagi antara Selayar dengan Sawerigading, juga bahwa adanya Lontarak di Selayar yang berisikan tentang cerita yang sama!

    Yang perlu diluruskan, bahwa Tana Cina yang dimaksudkan itu bukanlah cina rilau, melainkan Selayar.

    • pangeran said

      sejarah selayar lontara selayar hanya sepenggal saja dalam lontara i lagaligo, sedangkan tanah cina ( selayar) yang anda maksud itu kurang tepat. dalam i lagaligo cina yang sebenarnya adalah negeri cina. arab aja ada dalam i lagaligo kok. coba anda pelajari i lagaligo dan bendingkan dengan lontara selayar. termasul penulisan syair lontaranya

      • ACO said

        Negeri Cina yang dimaksud dalam Lontara I Lagaligo adalah negara Cina/Tiongkok bukan Selayar.
        Hubungan Luwu dengan Selayar memang sangat erat karena yang menjadi penghuni pertama pulau selayar adalah orang Luwu,salah satu putra raja yang melarikan diri bersama pacarnya ke Selayar karena ingin dijodohkan dengan keluarganya.Setelah tiba di selayar bersama pacarnya,dia mengeluarkan kutukan bahwa siapapun orang luwu yang ingin menyebrang ke Selayar,kapalnya akan tenggelam. Pada saat itu Sawerigading mencoba mengejarnya namun di tengah lautan kutukan itu betul2 terjadi sehingga kapal sawerigading terbelah 2 dan keping2 kapalnya hanyut kedaerah Bulukumba. KepIng2 kapal tersebut diambil oleh orang2 Bulukumba dan dijadikan kapal dan kapaL itulah yang kita kenal sekarang dengan nama KAPAL PINISI.
        Cerita tersebut saya dengar dari orang2 tua yang ada dikampung saya dan saya percaya dengan cerita tersebut karena pada zaman kerajaan yang menjadi tangan kanan Sawerigading adalah orang dikampung saya.Dulunya kampung saya bernama KAO-KAO namun berubah menjadi RAMPOANG yang ada di daerah Bone-Bone,Luwu Utara.

  5. insomnia said

    bikin heboh d bpp

  6. bams said

    la galigo rakus perempuan …. memalukan

  7. wolio awali said

    smua ceritanya sedikit benar tapi asal usul cerita dan sejarah tetantang I LA galigo ga sesuai dan sedikit menyimpang dri fakta cerita yg asli dan sebenar,x
    I la galigo tuh sejarah asli,x dia berasal dri tanah buton negri wolio smua nama,x turunan,x dri butuni negri wolio bukan dri bugis, smua cerita,x suda di rekaya dan di putar balikan fakta yg ada. sehingga cerita tentang I la galigo di anggap cerita legenda yg berasal dari suku bugis pada hal smua,x itu tdk benar

    suku bugis hanya menuliskan kisah”,x perjalannya sj , karna sesunggu,x orang / suku bugis adalah pengikut atau orang kepercayan Sawerigading dalam perjalan menjelajahi samudra di dunia

    • ACO said

      Asal usulnya bukan dari Buton tapi dari tanah LUWU.
      Dulunya kerajaan Luwu bukan di Palopo namun didaerah perbatasan antara Desa Ussu – Desa Cerekang yang berada didaerah Luwu Timur.Namun Batara Guru(nenek I lagaligo) berasal dari daerah Wotu(Luwu timur) sehingga Wotu dijuluki dengan nama Wara’ (Raja) dan Luwu Timur dijuluki dengan nama Bumi Batara Guru.

  8. putra sulsel said

    buat wolio awali : sejarah sudah di terjemahkan oleh sang mestro drs muhamad salim, berdasarkan isi kitab lontara yg asli…wal hasil gak ada berasal buton.. semua itu cukup jelas dari sulawesi selatan..

  9. esem said

    bwt yang bingung asal la galigo dari mana, coba liat di wikipedia. memang ada beberapa versi dari la galigo. hubungan dengan sawerigading juga bisa diliat disitu. Ga usah diperdebatkan. Sama seperti mahabarata, ada versi jawa, versi india, versi bali, versi malaysia. Tergantung folktale-nya siapa.

  10. Erwin Putra Sawerigading said

    La Galigo berasal dari Tanah Luwu’…
    Jika Ingin mengenal La Galigo kenali dulu silsilah keturunannya. La Galigo adalah Putra dari Sawerigading yang merupakan Anak dari Batara Lattu Keturunan Batara Guru.
    Berdasarkan silsilah Kerajaan Luwu’ Nabi Ilyasa Melahirkan keturunan Botting Patarai Wessoe merupakan ayah dari Datu Patotoe, sedangkan Datu Patotoe adalah ayah dari Batara Guru…
    Mari kita membuka penjara berfikir kita dengan tidak saling mengklaim dari daerah atau suku mana La Galigo berasal? tapi kita harus mengenal asal usul kita dari mana dan keturunan siapa???

  11. sekedar bahan referensi, silahkan kunjungi http://lontaraproject.com . dan yang bilang itu dari buton,Luwuk(banggai) atau bahkan kaili(sul-teng),tolong link-kan referensi yang membenarkan anda.terima kasih…dan sedikit tentang sejarah luwu ada di blog saya http://thrustuheart.blogspot.com/ .

  12. putra palopo said

    tidak puaska bacai kisa i lagaligo,,,,apakah meraka kawin…?lalu bagaiman kisa keselayar apa benaR I LAGALIGO BERSUMPA BRANG SIAPA YG KESELAYAR AKAN MENGALAMI MUSIBA(SAKIT ATAU MENINGgal)

    • ACO said

      Kisah itu memang benar namun jika kita ke Selayar dengan niat yang baik,kita akan selamat namun begitupun sebaliknya. Teman saya sudah membuktikannya tapi karena dengan niat yang baik,ia bisa pulang dengan selamat.

  13. syamsul said

    Waahh… mantap nih buat lomba cerita anak.
    I like this.

  14. andi sinra said

    bisa ngga saya mengetahui struktur raja-raja selayar dari yg paling atas (pertama) sampai sekarang … makasih …

  15. ruslan 085218894088 (sms) said

    ibu saya jika mendengar orang lagi ma’sureq yg menceritakan perjalanan hidup I saawerigading beliau sangat terharu dan sangat menghargai..bahkan saya disuruhnya shalat dan meminta petunjuk jika hendak memulai melukis..dst…jika memang martabat kita sedang di uji bahkan di sepelehkan oleh siapapun bahkan orang kita sendiri,itu berarti kita tersesat dan sebaiknya kembali kejalan awal..yakni.pelajari asal muasal kita..bahwa kita ini semua dari satu pencipta..tapi beragam suku dan setiap suku mempunyai asal muasal pembentukannya yang di bentuk atas dasar ke inginan utk eksis dan sebagai yang terbaik tampaa mengalahkan dan melukai suku lainnya….jadi komentar yang dilandasi dengan pefsiran negatif dll hanyalah memperlihatkan kedangkalan pengetahuan kita terhadap sesuatu…..kita harus percaya bahwa siapapun di atas dunia selalu berusaha sebaik mungkin dan searif mungkin agar di hargai..perilaku Isawerigading dan Ilagaligo memang sunnahnya seperti itu pada era itu….manusia sekarang termasuk kami ini sebaiknya melihat dan menikmati episode-episode cerita yang demikian indah utk di telaah dan di ambil hikmahnya dengan tetap menyaring lewat filter keyakinan dan agama kita masing2….betapa ruginya kita bila cerita ini menimbulkan kerugian terhadap kita..

  16. Askin (asli selayar) said

    menurutku sejarah selayar masih btuh penelusuran mendalam trmasuk hubungan antar selayar dan tanah luwu

  17. aidil said

    mau tanya dalam lontara aga tertulis makna junnu.setinja.beretemmu.toba.sembayang . sadda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.