www.PortalBugis.Com

"Catatan Bugis Di Rantau & Budayanya"

Epos Lagaligo

La galigo sebagai salah satu karya sastra yang mempunyai stuktur cerita yang besar, yang juga memuat beberapa sub-sub cerita yang terkandung didalamnya. Setiap sub cerita yang selanjutnya disebut episode, dapat dilihat dalam dua dimensi. Di satu sisi ia merupakan bagian cerita dari keseluruhan konstruksi la galigo, namun disatu sisi lain ia juga mempunyai cerita tersendiri dalam bingkai La Galigo. Jadi La Galigo mempunyai satu alur yang besar, yang didalamnya terdiri atas kumpulan beberapa episode, yang setiap episode juga mempunyai alur tersendiri, yang merupakan sub alur dari la galigo secara keseluruhan.
Hal ini disebabkan antara lain karena panjangnya cerita yang melingkupi setiap tokoh, sehingga kadang-kadang tidak tertampung hanya dalam satu episode. Kadang – kadang satu cerita terdapat pada dua atau tiga episode, hal itu tergantung banyaknya peristiwa yang diceritakan

Alur Cerita Dari Epos La Galigo Dari Tanah Bugis

Alur Cerita pada Bagan Diatas :
Pada episode sebelumnya, yakni episode ritumpanna welenrengnge (Penebangan pohon welenrenge) diceritakan bahwa Sawerigading putra mahkota dari raja luwuq ketika lahir, dalam keadaan kembar emas yakni kembar laki-laki dan perempuan. Karena dikhawatirkan akan saling jatuh cinta pada saat dewasa mereka berdua pun dipisahkan pada saat kecil dan tidak diperkenankan untuk bertemu.
Malang tak dapat ditolak, semua kekhawatiran yang selama ini ditakutkan tiba-tiba menjadi kenyataan dalam sebuah pesta besar di istina luwuq. Tanpa sengaja sawerigading melihat adik kembarnya We Tenriabeng. Saat itulah perasaan dan pikiran Sawerigading tidak pernah tentram lagi siang dan malam yang terbayang hanyalah adik kembarnya we tenriabeng.
Akhirnya perasaan itu ditumpahkannya dengan memberitahukannya dengan batara luwuq (Raja Luwuq). Dalam waktu sekejap batara Luwuq mengadakan rapat dewan adat untuk membicarakan masalah ini. Dan kesimpulannya peristiwa tersebut dianggap suatu pelanggaran adat yang sangat memalukan. Sebagai hukuman atas kelakuan sa werigading tersebut adalah pembuangan. Dan atas anjuran kembarnya we tenriabeng maka negeri yang dituju dalam pembuangan itu adalah negeri Cina. Karena di negeri cina terdapat putrid raja yang bernama I we cudai yang kecantikan dan kelembutannya tidak jauh beda dengan dirinya (we tenriabeng).
Dari sini lah bermula awal cerita inti dari la galigo yakni saat pelepasan sawerigading menuju negeri cina sampai tibanya dinegeri cina. Sementara itu seletah sawerigading pergi berlayar ke negeri cina, We Tenriabeng pun gaib ke botting langiq dan disana persta perkawinan We Tenriabeng menikah dengan Remmang Ri Langiq yang berlangsung dengan meriah dan tanpa di hadiri kedua orang tua We Tenriabeng.
Episode setelah Sawerigading tiba di cina, Menggambarkan Bagaimana Sawerigading Menyamar menjadi Ono (Hamba) Dan menyamar menjadi Penjual-Jual. Menyamaran tersebut dimaksudkan hanya untuk melihat Wajah We Cudai. Setelah melihat wajah We Cudai Sawerigading pun melamarnya. Tapi saying sekali lamaran Sawerigading ditolok oleh raja cina. Maka peperangan pun tak bias dielakkan. Setelah Sawerigading mengalahkan pasukan raja cina. Barulah perkawinan dilangsungkan antara Sawerigading dan We Cudai. Dari Perkawinan Sawerigading dan We Cudai ini Lahirlah Putera Sawerigading yang Bernama I La Galigo, yang selanjutnya menjadi sangat terkenal dan menjadi Judul dari Epik Besar La Galigo.

43 Tanggapan to “Epos Lagaligo”

  1. yusuf ghazaLi said

    cinta yang tragis

  2. Antonius Arif said

    Bolehkah kisah lgkapnya dikirimkan ke email saya?
    O y, saya mencari epos la galigo yg ditulis oleh siti aisyah we tenriolle, tlg bantu y… Makasi

  3. Antonius Arif said

    Sgt bagus dan menarik, apkh ini karya siti aisyah we tanriolle?

  4. salina said

    Adakah terjemahan “la galigo” dalam bahasa melayu atau bahasa indonesia?..saya di malaysia masih belum menemui terjemahannya…alangkah bagus ada terjemahan dalam bahasa melayu.. bagi membantu membuat penyelidikan mengenai la galigo..

  5. dani said

    Kisah epos lagaligo ini merupakan kisah yang terpanjang di dunia setelah rekor sebelumnya di pegang oleh cerita mahabharata tentang perang bharatayudha. So, sebagai keturunan bugis wajiblah kita melestarikan budaya kita ini agak tak musnah di telan zaman.. Thanks buat pemilik blog ini yang turut berjasa melestarikan kebudayaan nenek moyang bugis..

  6. ai el afif said

    Salam ..

    Saya ingin sekali membaca kisah I La Ga Ligo,
    Mohon infonya bagaimana saya bisa mendapatkan kisah atau buku La Galigo

    Salam kenal

  7. bagas andika said

    good story i loved

  8. IjaL said

    tapi ini bukan cerita orang bugis tapi orang luwu.. dan luwu punya bahasa sendiri bukan bahasa bugis..

    sejarah tanah luwu tdk akan terkuat jika saja para meneliti tdk memulainya dgn kausaprimanya, jika anda memulai dan terfokus di tanah bugis sehebat apapun ,sulit mendapatkan data yg obyektip.tulisan diatas dapat membangunkan orang dari tidurnya yang lelap….harus dimulai dari ware fase 1, yang berpusat di wotu.ware fase 2 di towuti,ware fase 3, di kamanre di tepi sungai noling ware fase.4 di pao malangke danware fase 5 di palopo. apa logis jika hrs terfokus di tanah bugis.jika mau jujur maka bahasa asli Luwu itu adalah Bahasa Wotu. yaitu bahasa yg digunakan pada fase wara1.Kemiripan (80% sama) dpt dilihat di tanah Kaili palu , buton dan selayar, adapun yg diklaim bhs yg digunakan sekarang bhs luwu tdk lebih adalah bhs Quasi yaitu perpaduan antara bahasa toraja dan bugis. dipusat tanah luwu 1 pun sejarah telah diputar balikan, misalnya nama CERREA (wotu)mereka ganti menjadi CEREKENG (bugis), pemangku adatx harusnya PUATA CERREA mrk ganti PUAK CEREKENG…termasuk istana luwu I. dll

    • Landraqi said

      Pak Ijal mungkin sebaiknya mencari informasi yang lengkap ke sidrap tepatnya di daerah amparita. karena menurut informasi pernah ada peneliti dari Belanda dan Jepang yang sempat ke daerah tersebut.

    • Wijanna Sawerigading said

      Epos I Laga Ligo adalah epos yang merupakan karya sastra terbesar suku Bugis, pusat ceritanya adalah tentang kisah kepahlawanan seorang pangeran sakti nan flamboyan, bernama Sawerigading. Secara umum epos ini merupakan kisah silsilah atau trah raja-raja Bugis yang secara turun-temurun mendominasi supermasi atas daerah Sulawesi Selatan khususnya dan Sulawesi Besar pada umumnya, yang awal ceritanya bermula dari negeri Luwu, negeri leluhur orang-orang Bugis, tempat Sawerigading, Sang Pangeran, memulai perjalanan hebatnya. Luwu, dalam Buku ‘La Toa’ karya Prof. Mattulada, yang merujuk kepada lontara La Toa, adalah kerajaan Bugis tertua, paling sepuh, dalam urut-urutan silsilah kerajaan bugis.

      Jadi berbicara tentang terminologi LUWU, Luwu adalah sebuah entitas sosial masyarakat yang membentuk suatu sistem sosial politik, ekonomi dan budaya tertentu, yang pada fase sejarah tertentu berbentuk kerajaan, dimana elite berkuasa atau dominasi atas supermasi entitas sosial tersebut adalah Bugis, salah satu komunitas yang menjadi komponen pembentuk entitas sosial tersebut, yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai ‘anak suku’, dari 12 anak suku yang membentuk kerajaan Luwu.

      Luwu, akhirnya adalah sebuah kerajaan, sama dengan jika kita mengatakan kerajaan Bone, atau kerajaan Gowa. Jadi Luwu bukanlah sebuah suku, seperti yang sebagian orang pahami. Seperti halnya tidak ada suku Bone atau suku Gowa, suku Luwu pun tidak pernah ada. Kerajaan Bone, dikenal sebagai salah satu kerajaan Bugis, karena kerajaan tersebut didominasi oleh suku Bugis dan menggunakan seluruh simbol-simbol budaya Bugis dalam prosesi resmi kerajaan, meskipun kita tahu bahwa di wilayah kerajaan Bone ada suku Bojoe, suku laut, yang mengaku bukan Bugis, namun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kerajaan Bone. Di kerajaan Gowa juga begitu, walaupun terdapat suku Konjo, yang mengaku bukan Makassar, yang menjadi bagian dalam masyarakatnya, namun kerajaan Gowa dikenal sebagai kerajaan Makassar. Bagaimana dengan kerajaan Luwu…?
      Dalam sejarah kerajaan Luwu, seluruh simbol-simbol kultural yang menjadi standar resmi kerajaan, apakah itu istana raja, pakaian kebesaran, senjata perang, bahasa resmi kerajaan dan lain-lain, hingga nama-nama raja dan bangsawan yang berkuasa, semuanya mengacu kepada kultur bugis, suku Bugis.

      Karena itu tidak pernah ada dikenal dalam sejarah sebagai suku Luwu, sebagaimana tidak dikenal pula yang disebut bahasa Luwu.

      Luwu adalah sebuah kerajaan, yang elite berkuasa adalah Bugis, salah satu komponen dari 12 anak suku yang ada di dalamnya, antara lain : Toraja, Wotu, Pamona, Padoe, Rongkong dll. Walaupun tentu saja, kemungkinan besar, terjadi kawin mawin diantara mereka, namun tetap saja KERAJAAN LUWU menggunakan simbol kerajaan mereka pada kultur Bugis. Inilah penjelasan mengapa Kerajaan Luwu dikenal dalam sejarah sebagai kerajaan Bugis, dan posisinya oleh suku Bugis dalam Lontara La Toa ditempatkan sebagai yang tertua dan dihormati, mengingat leluhur orang-orang Bugis berasal dan membentuk peradaban mereka yang hebat itu, yang menjangkau hingga Selat Malaka, dimulai dari Luwu.

      Saya sendiri adalah wija to Luwu, setidaknya karena kedua orang tua saya adalah asli Luwu. Kakek saya dimakamkan di LokkoE, kompleks pemakaman Raja-raja Luwu di Kota Palopo. Namun tidak satu saat pun dalam hidup saya, saya tidak mengaku sebagai orang Bugis, atau suku Bugis. Bukan karena reputasi Bugis yang mendunia, namun memang karena seluruh dalam kultur budaya keluarga dan kekerabatan kami, apakah itu bahasa, tata cara pesta, sistem nilai dan lain-lain, semuanya mengacu kepada budaya suku Bugis.

      Namun saya juga memahami dan menghargai jika ada saudara-saudara saya, wija to Luwu, yang tidak mengaku sebagai Bugis, karena memang masih ada 11 anak suku yang lain dimasa lalu yang membentuk masyarakat di Kerajaan Luwu.

      Sedikit catatan untuk saudara saya Ijal, tidak pernah ada fakta yang dibolak balik menyangkut Pua’ di Cerekeng. Kebetulan beliau yang berposisi sebagai Pua saat ini, secara geneakologis adalah uwa’ (tante) saya, dan tidak pernah ada yang berubah dari penyebutan jabatan beliau. Perbedaan istilah dalam budaya masyakat yang berbeda itu biasa. Banyak contoh sejarah yang bisa kita ambil. Contoh untuk para rasul. Oknum seperti Joseph, Job dan Jonah dalam budaya Yudeo-Christiani disebut sebagai Yusuf, Ayyub dan Yunus dalam tradisi Arab Islam. Kota termasyhur Byzantium (Yunani), atau Constantinopel (Romawi) dalam tradisi Islam disebut sebagai Istanbul.
      Apakah contoh seperti diatas kita bisa katakan bahwa penyebutan oleh budaya yang berbeda, terhadap oknum dan tempat yang sama, sebagai pemutarbalikan fakta…?

      • Terima kasih, atas segala pencerahannya…sy bangga sebagai dan bersyukur dilahirkan dlm “suku bugis”…web ini sangat penting..untuk memperkenalkan budaya bugis,…saya sebagai putera daerah…memimpikan suatu saat karya sastera I La galigo,..semakin dikenal dan dapat diangkat ke layar lebar..

        La Ridwan…

        Depok – Jawa barat

  9. nidafadlan said

    Naskah yang fenomenal… Saya mohon izin untuk repost dengan ditambahkan beberapa informasi lainnya. di sini —> http://nidafadlan.wordpress.com/2011/03/28/la-galigo-epos-terpanjang-kekayaan-sastra-indonesia/

    Salam

  10. Ali Samad said

    I La Galigo berlabuh di makassar sangat tragis ia pulang ke kampungnya setelah dieksplotasi oleh Trio R ia dijadikan komoditi ekonomi demi mengeruk keuntungan upacara penyambutan bersama para pembesar dari tanah luwu atau kedatuan luwu tidak porposional cenderung menjadi upacara seremoni demi kebutuhan sektor pariwisata.
    I laga Ligo diculik dijadikan bahan ngamen di manca negara dan dilabuhkan di Rotterdam Makassar dalam pementasan Tari Kolosal sayang pencapain esteknya tidak sampai ia hanya sebuah gambar pelangi, awan berarak dengan siraman tata cahaya. Gestur pemain tak nampak ia hanya pajo-pajo seperti wayang orang jawa. Pemain dan pemusil bagai robot yang diremote control oleh sutradara.

    Sutradara pementasan I La Galigo tak mampu menalukkan dan menjinakkan Benteng Fort Rotterdam Makassar, selama gladi resik hingga menjelang pementasan masih keteteran sang sutradara hanya mampu memainkan dalam ruang dengan pakem teknologi tapi gagal di ruang terbuka, sehingga alampu bereaksi dan menurunkan hujan itulah kenyataan pemetasan I La Galigo di Makassar

  11. Hello Feodal said

    semoga ada sastrawan bugis yang bisa menyalin epos in ke bahasa Indonesia modern sehingga bisa dinikmati dan di apresiasi oleh generasi sekarang, karena kalau hanya diceritakan sepotong-sepotong atau lewat pementasan drama dsb… rasanya ceritanya kurang lengkap dan membuat penasaran, tapi kalau di buat dalam bentuk novel akan lebih cepat membaur ke semua kalangan. Menyebutnya sebagai epos yang terpanjang dan melebihi Mahabarata? tunggu dulu sebelum lihat buktinya he he he … hayo buktikan, buat bukunya!

  12. hasan said

    saya blum tau kitab i lagaligo itu berbahasa apa…sedangkan i lagaligo itu putra sawerigading dari kerajaan luwu..mngkin kisah2 krajaan luwu yang asli atau kisah I lagaligo itu dituliskan berbahasa bugis kuno..tapi asal mula lagaligo dari kerajaan luwu…namanya juga penulis atau pegarang siapa saja bisa..namun yang namanya asal mula kan dah pasti kejadian itu berada..

  13. haris harlan said

    kembangakan dengan dan nyata sesuai versi lontarak

  14. rudi said

    Mohon bantuannya, dimana saya bisa mendapatkan buku i la galigo? mohon infonya.. tks

    • telh trbit novel la galigo episode turunnya manusia pertama (jilid 1) dr 12 jilid karya idwar anwar. karya ini diinpirasi dr kitab la galigo,karya sastra terpanjang di dunia. hrga 50.000/eks. tebal ix + 267 halmn. utk pemesanan sms ke 081343755711 (Penerbit Pustaka Sawerigading) makassar. tks

  15. ichank said

    kalo nulis tentang sejarah itu wajib hukumx mencantumkan tempat kejadian.
    trus,yang benar itu luwu bukan luwuq.tolong diperbaiki.

  16. Arwin said

    Kalau saya lebih penasaran cerita I La galigo yaitu pada bagian kitab pertama yang tidak boleh dibacakan ke sembarang Orang.

  17. Ricky Geo said

    Nama LUWU itu sangat banyak,… Di Sulawesi di sebut “Luwu”, di sureq Lagaligo disebut “Luwuq”, di kitab Nagarakartagama di sebut “Luwuk”, di Malaysia di sebut “Luwok”

  18. Telah terbit cetakan novel la galigo episode (turunnya manusia pertama) karya idwar anwar……

  19. laely yuliani said said

    cerita pendek i lagaligo tel beredar di gramedia

  20. I La Galigo, hmm… sepertinya menarik. Salam sayang dan kemilau … :)

  21. Anonim said

    Halo, saya sudah baca novel La Galigo karangan Dul Abdul Rahman. Menurut Saya La Galigo adalah cerita yang spektakuler….(sayang gaya bahasanya agak kaku).

    La Galigo bagi Saya, tidak ubahnya seperti sebuah cerita legenda rakyat, tetapi isinya mengandung petuah & nasehat.

    Masalah kisah ini akhirnya berhubungan dengan asal mula kerajaan – kerajaan di Sulawesi Selatan, menurut Saya tidak relevan sebagai dasar penentu.
    Ini hanyalah sekedar kisah, dimana “settingnya” berdasar masa atau jaman kisah itu di tuturkan. Ditambah pula kisah ini awalnya berupa cerita secara lisan.

    Saya teringat kisah Perang Paregrek (maaf kalau Saya salah tulis), antara Minak Jinggo & Damarwulan, kisahnya seperti perang Bharatayudha. Padahal itu hanyalah kisah imajinasi lain dari sebuah kisah nyata runtuhnya Majapahit.

    I La Galigo jadi mirip cerita Hercules, keturunan setengah manusia & dewa.

    Tapi semua hanya pendapat dari pikiran Saya yang tidak ingin terjebak dengan pandangan “sayalah yang benar”!!!!

    Bagaimanapun La Galigo adalah bukti nenek moyang kita pastilah maestro & master dalam sastra.

  22. dar sastra said

    Telah terbit LA GALIGO dalam bentuk novel, oleh Diva Press Yogyakarta Januari 2012, ditulis oleh dul abdul rahman. bisa didapatkan di tb gramedia di seluruh Indonesia

  23. Andi Firdaus said

    cerita yang mengharukan……ini adalah pembuktian bahwa bugis juga punya nama di kancah dunia….

  24. Adan Taufiq said

    haha. . . sungguh sya tertawa kalo ada yg bilang I laga ligo dari tanah bugis, . . saya orang makassar, menurt Sebuah artikel yg saya baca, Cerita tersebuT bukan dari tanah bugis atau suku bugis. tapi, itU milik orang-orang to luwu. . . atau suku luwu. . . . . .Perles yg membuat sebuah kesalahan besar dlam bukux. . .dia cenderung membugis orang-orang sul-sel padahal bhasax dan Karakterx berbeDa. . .paling saya miris ketika saya mendengar kalo sahx ARUNG PALAKKA yg pantas jadi Pahlawan nasional… bukan SULTAN HASANUDDIN, . . .hahaha saya jadi Ngakakakaka. . . Ayo Wija to Luwu ewoko. . . bebaskan diri anda dari klaim bhwa To luwu orang BUGIS

    • Aqilah said

      ku asli orang luwu, tapi blum pernah dengar ada namanya suku luwu,suku yang ada di sulawesi selatan setahu saya adalah suku bugis, makassar dan toraja. jadi kita orang luwu masih di kategorikan orang bugis,

      • rimaru said

        sekedar informasi..
        Luwu memang bukan sebuah suku. melainkan suku yang besar, yang melahirkan beberapa anak suku di jazirah sulawesi.. ada 12 anak suku.. salah satunya itu suku bugis.. jadi orang bugis adalah orang luwu juga.. tapi tidak semua orang luwu itu orang bugis.. baca baik2 epos la galigo.. bagaimana nenek moyang orang luwu menguasai daerah sulawesi bahkan hingga ke madagaskar.. ^_^

  25. ogha said

    bolehkah saya meminta kisah I laga ligo ini terutama kisah cinta i laga ligo hingga muncul sumpah I laga ligo itu
    taufik_sandi@yahoo.co.id

  26. SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL
    Tulisan ini dipersembahkan khusus bagi mereka yang ingin memahami kebenaran tentang misteri: Satrio Piningit, Imam Mahdi, Dajjal, Yesus Kristus, anti kristus, nabi Isa, Almasih dan Ratu Adil. Tulisan ini juga mengungkap misteri: Sabdo Palon Nayo Genggong, Nyi Roro Kidul, mahluk ruang angkasa, (UFO), leluhur bangsa israil dan benua atlantis

    . . .

    5. Satrio Piningit adalah keturunan Jawa yang berasal dari seberang (Makassar). Setelah Raja Prabuwijaya memeluk agama Islam, maka Sabdo Pulon Nayo Genggong berpisah dengannya. Sabdo Palon menuju Sulawesi Selatan tepatnya di kerajaan Gowa-Makassar. Dia membimbing raja Gowa, hingga raja Gowa memeluk agama Islam dan diberi nama Sultan Alauddin. Sabdo Palon juga membimbing Syekh Yusuf Al Makasssary, waliullah. Di Makasaar Sabdo Pulon meninggalkan jejak namanya sebagai “bawa karaeng” yang artinya sabda raja. Jika di Jawa Sabdo Pulon menunjuk letusan gunung merapi yang abunya ke barat daya sebagai tanda kemunculannya, maka di Makassar Sabdo Pulon menunjuk nama gunung “bawa karaeng” (sabdo raja) sebagai tanda saktinya semua perkataannya meski sudah ratusan tahun. Nama Makassar juga adalah nama yang diberikan oleh Sabdo Pulon. Makassar berasal dari kata makkasarak yang arti harfiahnya dari halus menjadi kasar. Sabdo adalah sabda yang disuarakan. Suara tidak dilihat oleh mata nyata hanya didenggar oleh telinga. Sabdo tentu ada pemiliknya. Pemiliknya yaang dahulunya gaib (halus) sekarang meng-kasar (makkasarak). Pemilik Sabdo Pulon adalaah Satrio Piningit. Satrio piningit akan berjalan kembali ke tanah Jawa. Sabdo pulon tidak memiliki wujud yang nyata. Sabdo Pulon adalah nabi Hidir alaihissalaam. Maha guru seluruh rajaa-raja dan wali-wali Allah. Dia ada dimana-mana. Umurnya 2000 tahun (angka 2 artinya digenapkan) lebih 3 tahun (angka 3 adalah senjata sakti trissula wedha). Di Makassar (meng-kasar, makkasarak) Sabdo Pulon (nabi Hidir) mempersiapkan titisannya yang memiliki jasad seperti manusiabiasa kemudian diberi nama Satrio Piningit. Salah satu tugas dari sekian banyak tugasnya adalah membuktikan kebenaran perkataan Sabdo Pulon. Satrio Piningit juga adalah Nayo Genggong.

  27. barumpung said

    Adalah sebuah kesalahpahaman jika “orang Luwu” merasa sebagai pemilik Epos I La Galigo karena meskipun bercerita tentang Luwu beserta orang-orangnya, Legenda/dongeng I La Galigo dibuat/ditulis/dikarang oleh orang Bugis.

  28. rimaru said

    Sekedar informasi:
    1. perlu dipahami, selama ini kebanyakan orang hanya taunya bugis.. padahal.. justru sumber cerita itu berasal dari Luwu (bukan luwuk atau luwuq)
    2. semua orang bugis adalah orang Luwu, tapi tidak semua orang luwu adalah orang bugis. karena luwu sendiri bukanlah suku, melainkan suku bangsa yang besar yang melahirkan beberapa anak suku (12 anak suku di sulawesi), salah satunya suku bugis..
    3. setau saya.. mengenai sejarah la galigo itu sudah di bukukan.. kalo tidak salah judulnya sejarah kerajaan luwu.. disitu di bahas cukup jelas epos la galigo karena merupakan sejarah kerajaan luwu sendiri..

  29. boleh ka saya membaca tentang kisah I LAGALIGO

  30. Ahmad Dg Magguna said

    ah… ternyata sudah banyak juga karya-karya putra sawerigading ya….
    keren……
    dan sebagai salah satu putra sawerigading, saya juga telah meluncurkan salah satu karya saya. novel ini sudah diterbitkan sekitar tiga bulan yang lalu. kalian bisa melihat sinopsisnya di sini: http://www.leutikaprio.com/produk/10041/novel/1207630/carbone__where_is_the_true_love/12074246/ahmad_dg_magguna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 81 pengikut lainnya.